Beranda » Masjid Penzberg, Gaya Kontemporer Islam di Kaki Pegunungan Alpen

Masjid Penzberg, Gaya Kontemporer Islam di Kaki Pegunungan Alpen




REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- "Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal''.

Terjemahan ayat Alquran surah Al-Hujurat ayat 13 itu, tertulis dengan jelas dalam bahasa Jerman pada salah satu sisi gerbang sebuah masjid yang beralamat di Bichlerstrasse 15, Penzberg, Bayern, Jerman. Penzberg adalah sebuah kota dengan jumlah penduduk sekitar 16.000 jiwa yang berada di bagian selatan Jerman, yaitu di kaki Pegunungan Alpen. Muslim Penzberg merupakan minoritas di kota ini, hanya berjumlah sekitar seribu jiwa. Penzberg merupakan kota multikultur, yang ditempati sekitar 70 suku bangsa di dunia. 

Komunitas Muslim setempat kebanyakan berasal dari Albania, Turki, dan Bosnia. Masjid Penzber didirikan atas prakarsa komunitas Muslim Jerman yang tergabung dalam Islamische Gemeinde Penzberg eV atau Jamaah Islam Penzberg. Organisasi Islam yang didirikan pada 1994 ini, dikenal sangat multietnis, netral, dan terbuka.

Sebelum memiliki masjid seperti sekarang, Muslim Penzberg dulunya biasa melakukan shalat di sebuah bangunan tua bekas kandang sapi. Baru pada September 2005 setelah masjid yang diberi nama Forum Islam ini diresmikan, Muslim Penzberg bisa beribadah dengan sangat nyaman di masjid barunya. Biaya pembangunan masjid yang mencapai tiga juta Euro yang merupakan sumbangan dari Sultan bin Muhammad Al-Qassimi, emir dari Uni Emirat Arab (UEA).

Perancang Forum Islam atau Masjid Penzberg adalah Alen Jasarevic, seorang arsitek Muslim keturunan Bosnia. Berbeda dengan kebanyakan bangunan masjid lainnya di Jerman yang menggunakan gaya arsitektur Turki Usmani, Jasarevic merancang masjid ini dengan gaya kontemporer. Ketika masjid-masjid lainnya dilengkapi kubah dan menara, Masjid Penzberg lebih memilih untuk tidak memiliki kedua ornamen tradisional masjid tersebut. Sebuah masjid memang tidak diwajibkan untuk memiliki menara dan kubah, yang penting adalah sebuah tempat yang layak dan nyaman untuk melaksanakan ibadah dan menjalin silaturahim.

Jasarevic berpendapat bahwa masjid dengan gaya kontemporer dinilai dapat lebih diterima di Eropa daripada gaya arsitektur lainnya. Selain inovatif, hal ini sejalan dengan harapan Muslim Penzberg, yaitu menginginkan sebuah masjid yang dapat diterima masyarakat sekitarnya tanpa menimbulkan protes dan juga dapat dijadikan sebagai tempat untuk berinteraksi antara sesama Muslim dan warga lainnya. Setelah masjid ini diresmikan, harapan Muslim Penzberg menjadi kenyataan. Tercatat semenjak hari peresmiannya, masjid ini telah dikunjungi puluhan ribu pengunjung, baik Muslim ataupun non-Muslim. Komunitas Muslim Penzberg memiliki hubungan yang sangat baik dengan warga lainnya yang beragama Kristen dan Yahudi.

Menurut Jasarevic, ilmu arsitektur selama berabad-abad telah memberikan kontribusinya pada kelancaran pendakwahan dan pencitraan Islam di berbagai negeri. Pembangunan sebuah masjid selalu mengikuti kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat sekitarnya.

Contohnya adalah Masjid Raya Xian di Cina yang dibangun dengan gaya arsitektur Dinasti Ming. Penyesuaian arsitektur bangunan masjid dilakukan sebagai salah satu langkah untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan sosialnya sehingga Islam bisa diterima dengan baik oleh semua lapisan masyarakat. Langkah inilah yang dilakukan oleh Muslim Penzberg untuk memulai komunikasi yang baik dengan warga lainnya.

Kontemporer
Masjid Penzberg adalah bangunan masjid dengan gaya kontemporer yang sarat dengan dengan sentuhan seni Islami. Bangunan yang dinding eksteriornya didominasi oleh corak batu bata berwarna pasir pantai ini memiliki denah berbentuk huruf L. Masjid Penzberg memiliki sebuah menara yang unik berupa susunan tiga buah kubus setinggi 13 meter.

Menara ini tidak terbuat dari batu bata atau semen seperti pada umunya, tetapi rangkaian kaligrafi yang membentuk tiga buah kubus baja antikarat. Kaligrafi bahasa Arab yang membentuk menara ini adalah teks ajakan untuk mendirikan shalat, yaitu azan. Lantunan ayat Alquran senantiasa bergema selama 24 jam sehari tanpa mengganggu para tetangga. Berdiri dengan sederhana dan elegan di dekat pusat kota, gaya arsitektur Masjid Penzberg berbaur dengan gaya arsitektur bangunan-bangunan lain di sekitarnya.

Tidak seperti kebanyakan masjid lainnya yang memiliki pintu utama yang terbuat dari bahan kayu berukir, Masjid Penzberg memiliki pintu utama yang terbuat dari bahan metal polos. Di atas pintu terdapat sebuah jendela besar yang memantulkan warna langit dan awan Kota Penzberg. Pintu masjid diapit oleh gerbang berupa dua lembar balok beton yang tingginya hampir setara dengan tinggi bangunan.

Pada balok beton sebelah kiri tertulis terjemahan bahasa Jerman dari surah Al-Fatihah dan surah Al-Hujurat ayat 13, sedangkan pada lembar balok beton sebelah kanan tertulis ayat-ayat Alquran tersebut dalam bentuk kaligrafi bahasa Arab. Dengan demikian, kedua lembar balok beton ini terlihat seperti sebuah Alquran terjemahan bahasa Jerman berukuran besar yang sedang terbuka, menyambut siapa pun yang hendak datang ke masjid ini untuk beribadah atau sekadar berkunjung dan mempelajari ajaran Islam.

Bila biasanya pintu utama masjid langsung mengantarkan jamaah dan pengunjung ke ruang shalat utama, di Masjid Penzberg, seorang jamaah akan langsung memasuki koridor (flur) yang mirip dengan rumah-rumah di Jerman, dan sekaligus menghubungkannya dengan pintu-pintu lainnya. Di sebelah kiri koridor terdapat pintu perpustakaan dan tangga menuju ruang shalat wanita di lantai kedua, sedangkan di sebelah kanan terdapat pintu ruang shalat utama untuk laki-laki. Ujung koridor ini terhubung dengan lapangan parkir dan taman.

Di dalam bangunan yang memiliki tiga lantai dan sebuah basement ini, selain terdapat ruang shalat, juga terdapat sebuah perpustakaan multimedia dengan koleksi berjumlah lebih dari 6000 buah. Bangunan masjid ini juga memiliki aula, ruang administrasi, dan beberapa ruang kelas. Di bagian luar masjid terdapat taman, teras, dan tempat parkir. Keseluruhan bangunan masjid berdiri di atas lahan seluas 1.600 meter persegi.

Walaupun memilih gaya kontemporer untuk seluruh struktur bangunannya, Jasarevic tidak serta-merta meninggalkan unsur-unsur seni Islami sebagai penghias sekaligus jiwa dari masjid ini. Hiasan arabes berupa permainan garis-garis geometri sederhana dan kaligrafi bahasa Arab tetap menghiasi seluruh interior ruang shalat. Bentuk-bentuknya terinspirasi dari beberapa corak hiasan yang tedapat di Masjid Kordoba, Spanyol.

Sementara itu, langit-langit, panel, dan beberapa buah tiang artistik di ruang shalat utama dihiasi oleh kaligafi 99 nama Allah (Asmaul Husna) dan rangkaian garis geometri yang membentuk bintang-bintang. Keseluruhan mihrab masjid dibentuk oleh rangkaian kaligrafi yang terbuat dari bahan metal berwarna emas. Untuk tempat berkhutbah, sebuah mimbar tinggi berukir corak geometri berdiri di sebelah depan kanan ruangan shalat.

Sebagai tambahan sumber energi, di atap masjid yang berbentuk datar ini dipasang 22 panel tenaga matahari seharga 40 ribu Euro. Panel-panel ini merupakan sumber energi untuk sistem penghangat ruangan dan pemanas air.

Pencahayaan interior ruang shalat mengandalkan beberapa buah lampu kecil khas gaya minimalis yang ditempatkan di langit-langit dan lantai dekat jendela. Selain itu, pada siang hari pencahayaan interior didukung oleh jendela-jendela besar di sebelah kanan dan kiri ruang shalat.

Bagian terdepan ruang shalat ini bukanlah sebuah dinding beton, melainkan rangkaian 24 jendela daur ulang berwarna biru yang menghadap ke arah kiblat. Pada waktu siang, cahaya matahari akan dibiaskan oleh rangkaian jendela ini dan menghasilkan cahaya berwarna kebiruan.

Pada malam hari pemandangan masjid akan menjadi lebih indah, khususnya pada bagian eksterior. Seluruh dinding luar masjid disinari oleh lampu sorot, memperjelas efek visual dari corak batu bata pada permukaan dindingnya. Jendela-jendela masjid yang berukuran besar memancarkan cahaya yang berasal dari dalam ruangan, menegaskan corak geometri berbentuk bintang dan motif bintik-bintik biru pada setiap jendelanya.

Tidak ketinggalan, menara masjid ikut menghiasi pemandangan malam kota yang berada di kaki Pegunungan Alpen ini. Cahaya dari dalam menara memancar dan menembus celah-celah ukiran kaligrafinya. Karya besar Jasarevic ini sekarang menjadi salah satu ikon Kota Penzberg.
Red: Budi Raharjo
Rep: Oleh Syarif Abdussalam

www.lulusuji.blogspot.com