Beranda » Contoh Proposal : SIKAP REMAJA TERHADAP PERILAKU SEKSUAL PRA-NIKAH DI KOTA NERAKAXXX

Contoh Proposal : SIKAP REMAJA TERHADAP PERILAKU SEKSUAL PRA-NIKAH DI KOTA NERAKAXXX

A. Latar Belakang Masalah
Pembangunan dan kemajuan teknologi semakin berkembang pesat dewasa ini. Pembangunan dan kemajuan teknologi tersebut menyebabkan masyarakat dituntut untuk menyesuaikan dengan perubahan. Indonesia saat ini tengah dalam perjalanan menuju era pasar bebas dimana seluruh arus ekonomi, sosial, budaya dan politik serta informasi menjadi sesuatu yang bersifat lebih terbuka dan luas.

Informasi memang sangat dibutuhkan dalam menjalani kehidupan modern saat ini. Informasi dapat tersampaikan melalui berbagai media, diantaranya dari yang paling tradisional yaitu, dari mulut kemulut, media cetak, media elektronik dan internet. Informasi dari berbagai belahan dunia tersebut menyebar begitu cepat dan lebih banyak tersebar tanpa proses penyaringan, kesempurnaan isi dan dasar keilmuan yang cukup dari penerima informasi.

Salah satu konsumsen informasi adalah remaja, dengan begitu banyaknya media yang ada, maka sangat tidak sulit bagi remaja untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkannya. Remaja sebagai satu tahap perkembangan psikologis dan fisik yang masih cukup rentan terhadap sesuatu yang baru, hal ini disebabkan oleh dorongan rasa keingintahuan yang tinggi oleh remaja itu sendiri.
Dr. Dadang Sulaeman (1995: 7) menyatakan :

“Para remaja ingin sekali mendapatkan kepastian tentang arti atau makna dari segala sesuatu. Pertanyaan apa, mengapa, apa perbedaan ini dan itu, dan sebagainya, sering mereka lontarkan. Kebanyakan para remaja menginginkan jawaban tentang sesuatu persoalan sampai ke akar-akarnya.”

Pencarian akan makna ini akan sangat tidak menguntungkan apabila yang mereka temukan tidak lengkap atau bahkan salah. Perubahan paling pesat pada remaja yang paling siginifikan adalah perubahan kondisi fisik dan kematangan organ reproduksi yang tidak lain adalah kematangan seksual.

Kebutuhan akan pemahaman yang benar tentang hakikat seksualitas manusia di kalangan remaja kian mendesak untuk dipenuhi jika peran media dalam mengkomunikasikan pesan-pesannya juga diperhatikan dengan seksama. Hal tersebut perlu mendapat perhatian, karena media dalam pesannya sering melecehkan seksualitas manusia walaupun tujuan utama dari media adalah semata-mata untuk menarik minat konsumen terhadap suatu barang dagangan. Kartono (1994) menyarankan agar format penyusunan dan penyajian di media massa diatur, sehingga materi maupun pesan yang disampaikan benar-benar bermuatan nilai-nilai pendidikan.

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia seks masih merupakan sebuah masalah yang tabu untuk dibahas terlebih kepada remaja. Dokter Gerard Paat, kolsultan keluarga RS St. Carolus (dalam sebuah situs www.keluargasehat.com) menyatakan bahwa “pendidikan seks di Indonesia masih mengundang kontroversi dan masih banyak anggota masyarakat yang belum menyetujui pendidikan seks di rumah maupun di sekolah.” Sekalipun untuk tujuan pendidikan, anggapan tabu untuk berbicara soal seks masih menancap dalam benak sebagian masyarakat. Akibatnya, anak-anak yang berangkat remaja jarang yang mendapat bekal pengetahuan seks yang cukup dari orang tua. Padahal tidak jarang para remaja sendiri yang berinisiatif bertanya, tapi justru sering disambut dengan kemarahan orang tua.

Informasi mengenai seks yang tidak mereka peroleh dari orang tua dapat dengan mudah diperoleh dari teman sebaya (peer group) mereka atau dari media-media yang mengandung unsur pornografi. Pengaruh media sering kali diimitasi oleh remaja dalam perilakunya sehari-hari. Misalnya saja remaja yang menonton film remaja yang berkebudayaan barat, melalui observational learning, mereka melihat perilaku seks itu menyenangkan dan dapat diterima lingkungan barat. Hal ini pun diimitasi oleh mereka, terkadang tanpa memikirkan adanya perbedaan kebudayaan, nilai serta norma-norma dalam lingkungan masyakarat yang berbeda.

Kondisi kurangnya pengtahuan para remaja mengenai seksualitas dapat dilihat dari data hasil penelitian PKBI 2001 terhadap responden remaja khususnya siswa SMU dan mahasiswa yang dilaksanakan di lima kota, yakni Kupang (NTT), Palembang (Sumsel), Singkawang (Kalbar), Cirebon, dan Tasikmalaya (Jabar). Penelitian melibatkan 2.479 responden berusia 15-24 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 52,67% responden memiliki pengetahuan kesehatan reproduksi tidak memadai, karena sumber pengetahuan mereka hanya dari teman.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Perusahaan Riset Internasional Synovate atas nama DKT Indonesia terhadap perilaku seksual remaja berusia 14-24 tahun yang dilakukan terhadap 450 remaja dari Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan terungkap bahwa Informasi utama mereka didapatkan dari kawan sebanyak 65% atau film porno sebanyak 35%, untuk sekolah dan orang tua masing-masing sebanyak 19% dan 5%. Dan, sebanyak 81% remaja tersebut mengakui lebih nyaman berbicara mengenai seks dengan kawan-kawannya.

Orang tua yang cenderung tidak memberikan pemahaman tentang masalah-masalah seks anak, akibatnya anak mendapatkan informasi seks yang tidak sehat. Tentang hal ini Davis (1957) menyimpulkan hasil penelitiannya, bahwa “Informasi seks yang tidak sehat atau tidak sesuai dengan perkembangan usia remaja ini mengakibatkan remaja terlibat dalam kasus-kasus berupa konflik-konflik dan gangguan mental, ide-ide yang salah dan ketakutan-ketakutan yang berhubungan dengan seks (Bibby, 1957)”.

Terciptanya konflik dan gangguan mental serta ide-ide yang salah dapat memungkinkan seorang remaja untuk melakukan perilaku seks pranikah. Informasi seksual yang tidak akurat dan benar dapat menjerumuskan remaja kepada perilaku seksual pra nikah. Dokter Boyke Dian Nugraha, DSOG, ahli kebidanan dan penyakit kandungan pada RS Dharmais, (dalam situs www.keluargasehat.com) menyampaikan bahwa ada 16 - 20% dari remaja yang berkonsultasi kepadanya telah melakukan hubungan seks pranikah dan dalam catatannya jumlah kasus itu cenderung naik, karena awal tahun 1980-an angka itu berkisar 5 - 10% dan naik dari tahun ketahun.

Data tersebut lebih banyak lagi digambarkan oleh survey yang dilakukan oleh BKKBN terhadap 2880 remaja di Provinsi Jawa Barat terungkap, bahwa 40% remaja menyatakan telah melakukan hubungan seksual pra nikah (www.bkkbn.co.id, 2006). Dan untuk wilayah kota Bandung, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat Sahabat Anak Dan Remaja Indonesia (Sahara Indonesia) selama tahun 2000-2002 terhadap 1000 orang remaja dan mahasiswa, diperoleh hasil bahwa 44,8% pernah melakukan hubungan seks.

Penelitian lain yang dilakukan oleh PKBI 2001 terhadap responden remaja di lima kota yakni Kupang (NTT), Palembang (Sumsel), Singkawang (Kalbar), Cirebon, dan Tasikmalaya (Jabar). Penelitian melibatkan 2.479 responden berusia 15-24 tahun ditemukan bahwa ada sekitar 16,46% (227 orang) responden mengaku pernah melakukan hubungan seksual.

Keseluruhan data tersebut merupakan data hasil penelitian, namun masih belum merupakan data pasti karena, permasalahan perilaku seks bebas seperti sebuah fenomena gunung es, dimana yang terlihat adalah yang lebih kecil dibanding yang sebenarnya ada dan tersembunyi. Data-data tersebut diambil dari responden yang berdsomisili di kota-kota yang telah berkembang lebih maju dan banyak tergerus oleh budaya barat yang bebas, sehingga akan sangat logis apabila diperoleh hasil seperti yang disebutkan diatas. Namun untuk daerah-daerah yang masih dalam tahap berkembang seperti daerah-daerah Bangka-Belitung, Gorontalo, Sulbar dan daerah lain yang baru memasuki gerbang perubahan, belum diadakan penelitian semacamnya. Padahal daerah-daerah ini sangat potensial untuk terjadinya permasalahan perilaku seks pra nikah, karena sangat riskan untuk tergerus oleh perubahan yang ada.

Asumsi-asumsi tersebut yang kemudian menarik perhatian peneliti untuk mengadakan penelitian

mengenai perilaku seks pra nikah remaja di daerah yang baru berkembang. Salah satu daerah yang akan di jadikan tempat dilaksanaknnya penelitian adalah daerah Provinsi Bangka Belitung, Kota Kota Nerakaxxxdengan terfokus terhadap 2 sekolah menengah atas yaitu SMU Negeri 2 Kota Nerakaxxxdan SMU Negeri 3 Nerakaxxx.
Provinsi Bangka Belitung dipilih, karena sebagai salah satu daerah yang terbentuk diawal tahun 2002, daerah ini menjadi lebih terbuka dalam menerima perubahan dan informasi. Beberapa orang responden yang ditemui peneliti, menyatakan pernah melakukan hubungan seks pra nikah dan mengakui banyak diantara para remaja di daerahnya yang pernah melakukan hubungan seks pra nikah. Tentunya, pernyataan tersebut masih belum merupakan fakta yang benar jika dinilai secara akademis. Sehingga, peneliti merasa perlu untuk diadakannya penelitian mengenai sikap remaja terhadap perilaku seks pra nikah.

B. Permasalahan Penelitian

Uraian yang telah dikemukakan di atas yang kemudian mendasari peneliti untuk meneliti “Bagaimana sikap remaja terhadap perilaku seks pra nikah di KotaNerakaxxx” ?
Latar belakang yang telah diuraikan diatas kemudian diuraikan pada sub-sub problematik sebagai berikut:
1. Bagaimana gambaran umum pengetahuan remaja kota Kota Nerakaxxxmengenai perilaku seksual pra nikah?
2. Bagaimana remaja kota Kota Nerakaxxxmemperoleh informasi mengenai seks?
3. Apakah pengaruh informasi mengenai seks terhadap perilaku seksual remaja kotaNerakaxxx?
4. Bagaimana remaja kota Kota Nerakaxxxmenghadapi kondisi seksual mereka?
5. Bagaimana remaja kota Kota Nerakaxxxmenanggulangi permasalah seksual mereka?
6. Bagaimana keterlibatan remaja kota Kota Nerakaxxxterhadap perilaku seksual pra nikah?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana sikap remaja terhadap perilaku seks pra nikah di kotaNerakaxxx.
Tujuan yang ingin dicapai peneliti adalah untuk:
1. Mengetahui gambaran umum dari pengetahuan remaja kota Kota Nerakaxxxmengenai perilaku seksual pra nikah
2. Mengetahui asal penerimaan informasi mengenai seks
3. Mengetahui pengaruh informasi mengenai seks terhadap perilaku seksual remaja kotaNerakaxxx
4. Mengetahui kondisi seksual remaja kotaNerakaxxx
5. Mengetahui penanggulangan permasalah seksual remaja kota Kota Nerakaxxx
6. Mengetahui keterlibatan remaja kota Kota Nerakaxxxterhadap perilaku seksual pra nikah

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Praktis
a. Memberikan pengalaman belajar dan menambah wawasan kepada peneliti tentang sikap dan perilaku seks pra nikah remaja.
b. Bagi pemerintah kotaNerakaxxx, diharapkan penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran untuk membantu dalam pemecahan masalah sikap dan perilaku seks pra nikah remaja.
2. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah pengetahuan dan informasi tentang sikap remaja terhadap perilaku seks pra nikah di kota Kota Nerakaxxxserta dapat dijadikan sebagai bahan pengembangan bagi disiplin ilmu pekerjaan sosial dalam menangani permasalahan yang berkaitan dengan perilaku seksual pra nikah dan kepada permasalahan yang timbul sebagai akibat dari perilaku seksual pra nikah diantaranya HIV/AIDS, aborsi dan kondisi pernikahan muda yang tidak stabil.

E. Tinjauan Pustaka

1. Tinjauan Tentang Sikap

a. Pengertian
Pengertian mengenai sikap dalam Glossaries 1 Pekerjaan Sosial adalah preposisi yang dipelajari untuk merespon perilaku yang disukai dan tidak disukai dan tidak disukai terhadap obyek, atau suatu evaluasi disposisi yang relatif stabil dan umum yang diarahkan pada beberapa obyek.

1) Presdoposisi seseorang untuk bertingkah laku
2) Serangkaian kategori-kategori yang dimiliki bindividu untuk menilai daerah rangsangan sosial, benda, orang-orang, nilai-nilai kelompok dan cita-cita yang telah dibentuk sebagaimana dia mempelajari daerah rangsang tersebut.
3) Suatu kecenderungan bertindak kearah atau menolak suatu faktor lingkungan
4) Derajat efek positif atau efek negatif terhadap suatu obyek psikologis.
Akyas Azhari (2004: 161) mendefinisikan bahwa :

“sikap atau attitude adalah suatu cara bereaksi terhadap suatu perangsang tertentu. Sikap adalah perbuatan atau tingkah laku sebagai reaksi atau respons terhadap suatu rangsangan (stimulus) yang disertai dengan pendirian dan perasaan orang.”

Akyas Azhari (2004: 162) kemudian mengutip pernyataan Allport (sears, 1994: 137) bahwa : “sikap adalah keadaan mental dimana prosesnya berawal dari reaksi terhadap sebuah pengalaman yang dipandang memberikan pengaruh dinamik dan terarah pada diri individu.”

b. Proses pembentukan sikap.
Sikap tidak terjadi dengan sendiri, pembentukannya selalu berhubungan dengan interaksi individu dengan lingkungan disekitarnya dan perbedaan bakat, minat serta intensitas perasaan. Akyas Azhari (2004: 163) secara umum menggambarkan bahwa pembentukan sikap dapat terjadi melalui empat cara yaitu :

1) Adaptasi, yaitu kejadian yang terjadi berulang-ulang
2) Diferensia, yaitu sikap yang terbentuk karena perkembangan intelegensi, bertambahnya pengalaman dan lain-lain
3) Integrasi, di mana pembentukan sikapa disini terjadi secara bertahap, dimulai dengan berbagai pengalaman yang berhibungan dengan satu hal tertentu sehingga akhirnya terbentuk sikap mengenai hal tersebut.
4) Trauma, yakni pengalaman yang tiba-tiba mengejutkan dan biasanya meninggalkan kesan mendalam pada jiwa orang yang bersangkutan, sehingga pada akhirnya membentuk sikap tertentu.
c. Komponen Sikap
Sikap pada dasarnya di bagi atas 3 komponen penting yang saling berhubungan yaitu, komponen kognitif, komponen afektif dan komponen konatif.
1) Komponen Kognitif (cognative)
Komponen kognitif berupa kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi suatu obyek. Mann dalam Saifuddin Azwar (2005:24) mengemukakan bahwa : “komponen kognitif berisi persepsi, kepercayaan, dan stereotipe yang dimiliki individu mengenai sesuatu”. Hal ini juga diperkuat oleh Travers dalam H. Abu Ahmadi (1999:164) bahwa :
“komponen kognitif berupa pengetahuan, kepercayaan atau pikiran yang didasarkan pada informasi, yang berhubungan dengan obyek.”
2) Komponen Afektif (affektive)
Komponen afektif berhubungan dengan emosional subjektif individu terhadap suatu obyek. Mann dalam Saifuddin Azwar (2005:24) menjelaskan bahwa:
Komponen affektif merupakan perasaan individu terhadap objek sikap dan menyangkut masalah emosi. Aspek emosional inilah yang biasanya berakar paling bertahan terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin akan mengubah sikap seseorang.

3) Komponen Konatif (conative)
Komponen konatif juga disebut dengan komponen prilaku adalah kecenderungan seseorang untuk bertindak atau untuk bereaksi terhadap sesuatu dengan cara-cara tertentu.
Menurut Saifudin Azwar (2005:27) bahwa :

“komponen prilaku atau komponen konatif dalam struktur sikap menunjukan bagaimana prilaku atau kecenderungan berprilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan obyek sikap yang dihadapinya”.Komponen kognitif merupakan aspek sikap yang berkenaan dengan penilaian individu terhadap obyek atau subyek. Informasi yang masuk ke dalam otak manusia, melalui proses analisis, sintesis, dan evaluasi akan menghasilkan nilai baru yang akan diakomodasi atau diasimilasikan dengan pengetahuan yang telah ada di dalam otak manusia.

Nilai-nilai baru yang diyakini benar, baik, indah, dan sebagainya, pada akhirnya akan mempengaruhi emosi atau komponen afektif dari sikap individu. Oleh karena itu, komponen afektif dapat dikatakan sebagai perasaan (emosi) individu terhadap obyek atau subyek, yang sejalan dengan hasil penilaiannya.

Komponen konatif bertindak berkenaan dengan keinginan individu untuk melakukan perbuatan sesuai dengan keyakinan dan keinginannya. Sikap seseorang terhadap suatu obyek atau subyek dapat positif atau negatif. Manifestasikan sikap terlihat dari tanggapan seseorang apakah ia menerima atau menolak, setuju atau tidak setuju terhadap obyek atau subyek.

d. Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap
Setiap orang memiliki sikap yang berbeda-beda dan khas terhadap suatu perangsang dikarenakan adanya faktor-faktor yang mempengaruhi, baik yang datang dari luar (ekstern) maupun dari dalam diri sendiri (intern). Faktor-faktor tersebut dijelaskan oleh sebagai berikut :
1) Faktor intern, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri orang yang bersangkutan. Faktor ini menentukan pilihan seseorang dalam memilih sesuatu yang akan berdampak negatif bagi dirinya atau berdampak positif bagi kehidupannya.
2) Faktor eksternal, yaitu faktor yang berasal dari luar diri orang yang bersangkutan.

Menurut Wirawan (1976: 96-97 dalam Psikologi Umum dan Perkembangan, Akyas Azhari 2004: 164) faktor eksternal menyangkut :
a) Sifat obyek yang dijadikan sasaran sikap.
b) Kewibawaan orang yang mengemukakan suatu sikap.
c) Sifat orang-orang atau kelompok yang mendukung suatu sikap.
d) Media komunikasi yang digunakan dalam menyampaikan sikap.
e) Situasi pada saat sikap itu dibentuk.

  1. Tinjauan Tentang Remaja
    a. Pengertian
    Masa remaja (Adolesence) berasal dari kata latin adolescere (kata bendanya, adolensecentia yang berarti remaja), yang berarti pula tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Masa remaja (masa adolesen) dipandang sebagai masa dimana individu berada dalam proses pertumbuhannya (terutama fisik) telah mencapai kematangan atau dengan kata lain seuah periode transisi atau peralihan dari kehidupan masa kanak-kanak ke masa dewasa.
    Secara negatif periode ini disebut oleh DR. Dadang Sulaeman (1995: 1) sebagai periode “serba tidak” (the unstage), yaitu unbalanced atau tidak/belum seimbang, unstable atau tidak /belum stabil, unpredictable atau tidak dapat diramalkan. Untuk itu, masa remaja adalah masa yang sangat rawan untuk terkontaminasi dengan pola pikir dan perilaku yang negatif.

Periode remaja merupakan sebuah masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Disatu sisi, mereka sudah terlepas dari masa kanak-kanak namun belum bisa dikatagorikan sebagai masa dewasa. Dr. Zakiah Daradjat (1978) dalam Willis (2005: 23) mengungkapkan sebagai berikut :
“Remaja adalah usia transisi. Seorang individu, telah meninggalkan usia kanak-kanak yang lemah dan kebergantungan, akan tetapi belum mampu ke usia yang kuat dan penuh tanggung jawab, baik terhadap dirinya maupun terhadap masyarakat. Banyaknya masa transisi ini bergantung kepada keadaan dan tingkat sosial masyarakat dimana ia hidup. Semakin maju masyarakat semakin panjang usia remaja. Karena ia harus mempersiapkan diri untuk menyesuaikan diri dalam masyarakat yang banyak syarat dan tuntutannya”.

Masa remaja pada masyarakat modern, bertambah panjang, mereka dianggap masih perlu ditolong, dibimbing dan dibina sedangkan pada masyarakat sederhana dan primitif masa remaja pendek dan mungkin pula tidak ada sama sekali karena orang tua hanya melihat perubahan pesat yang tampak dan kemudian memberikan tanggung jawab sebagaimana orang dewasa lainnya.

b. Ciri-ciri masa remaja.
Ciri-ciri utama pada masa remaja menurut DR. Sofya Willis, M.Pd (2005: 20) meliputi 3 hal, yaitu :
1) Ciri primer, yaitu matangnya organ seksual yang ditandai dengan adanya menstruasi (manarche) pertama pada anak wanita dan produksi cairan sperma pertama (nocturnal seminal emission) pada anak laki-laki.
2) Ciri sekunder, meliputi perubahan pada bentuk tubuh pada kedua jenis kelamin. Anak wanita mulai tumbuh buah dada, pinggul membesar, paha membesar karena tumpukan zat lemak dan tumbuh bulu-bulu pada alat kelamin dan ketiak. Pada anak laki-laki terjadi perubahan otot, bahu melebar, suara mulai berubah, tumbuh bulu-bulu pada alat kelamin dan ketiak serta kumis apda bibir. Disamping itu pada keduanya terjadi pertambahan berat badan dan tinggi.
3) Ciri tertier, yaitu ciri-ciri yang tampak pada perubahan tingkah laku. Perubahan itu erat kaitannya dengan perubahan psikis, yaitu perubahan tingkah laku yang tampak seperti perubahan minat, antara lain minat belajar, minat terhadap lawan jenis dan minat terhadap kerja.

DR. Dadang Sulaeman(1995: 3) menandai masa remaja sebagai berikut :
1) Pertumbuhan physik berjalan secara cepat bila dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya, terutama pertumbuhan tinggi dan berat badan serta perubahan-perubahan secara umum dalam proporsi dari berbagai bagian tubuh. Disamping itu terjadi perubahan-perubahan kelenjar kelamin. Pada anak wanita, masa ini ditandai dengan menstruasi yang pertama kali.
2) Pada periode ini para remaja mulai mengadakan penyesuaian sosial, mereka senang hidup berkelompok dan kesadaran kelamin semakin besar serta mulai timbul minat terhadap jenis kelamin, sehingga memudahkan melakukan kegiatan-kegiatan sosial secara kooperatif.
3) Pada periode ini para remaja mulai mempertimbangkan nilai-nilai. Kepalsuan serta kebohongan akan cepat diketahui mereka. Dalam tindaka-tindakannya sering ingin dibenarkan oleh orang tuanya.
4) Di sekolah mereka banyak melakukan penyelidikan dalam dunia musik, kesenian, kerajinan tangan, seni drama dan lain-lain. Pada usia ini semakin berkembanglah kemampuan untuk belajar, memahami hubungan-hubungan, mempelajari hal-hal yang lebih kompleks, mampu mengadakan generalisasi, mampu untuk memikirkan hal-hal yang abstrak, minat terhadap dirinya sendiri dan orang lain lebih besar. Mereka bersifat kritis, baik terhadap dirinya maupun terhadap orang lain.

Masa remaja mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakannya dengan periode sebelum dan sesudahnya. Hal ini diterangkan oleh Akyash Azhari (2004: 180) sebagai berikut :
1) Masa remaja adalah salah satu periode penting dalam proses perubahan, baik dalam pengertian pertumbuhan maupun perkembangan yang terjadi secara cepat.
2) Masa remaja adalah periode peralihan. Dalam setiap periode peralihan, status individu tidak jelas dan terdapat keraguan akan peran yang harus dilakukan. Remaja bukan lagi seorang anak tapi bukan orang dewasa.
3) Masa remaja sebagai periode perubahan. Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku selama masa remaja sejajar dengan tingkat perubahan fisik.
4) Masa remaja sebagai usia bermasalah. Setiap periode mempunyai masalah-masalah sendiri-sendiri, namun masalah masa remaja menjadi sangat sulit untuk diatasi baik yang terjadi pada laki-laki maupun wanita.
5) Masa remaja sebagai masa mencari identitas. Pada tahun-tahun awal masa remaja, penyesuaian diri dengan kelompok masih tetap penting bagi anak laki-laki dan perempuan.
6) Masa remaja sebagai ambang masa dewasa. Dengan semakin mendekatnya usia kematangan yang sah, para remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan streotip belasan tahun dan untuk memberikan kesan bahwa mereka sudah dewasa.

Ciri-ciri khusus pada remaja, antara lain:
1) Pertumbuhan Fisik yang sangat Cepat
2) Emosinya tidak stabil
3) Perkembangan Seksual sangat menonjol
4) Cara berfikirnya bersifat kausalitas (hukum sebab akibat)
5) Terikat erat dengan kelompoknya
c. Fase-fase masa remaja

Witherington (dalam sulaeman, 1995: 3) membagi masa remaja menjadi dua fase yaitu yang disebut dengan masa remaja awal atau pre adolesence, yang berkisar antara usia 12-15 tahun dan masa remaja akhir atau late adolesence, yaitu antara usia 15-18 tahun. Pembagian lain dikemukakan Gilmer (dalam sulaeman, 1995: 3) untuk laki-laki sebagai berikut :
1) Pra adolesen, yaitu antara usia 10 sampai 13 tahun
2) Masa adolesen awal, yaitu antara 13 sampai 17 tahun
3) Masa adolesen akhir, dari usia 18 sampai 21 tahun
Wanita kematangannya lebih cepat dibandingkan laki-laki yaitu :
1) pra adolesen datang pada usia 10 dan 11 tahun
2) masa adolesen awal antara usia 12 samapi 16 tahun
3) masa adolesen akhir, anatar usia 17 sampai 21 tahun

Menurut Stanley Hall (dalam Willis, 2005: 23) masa remaja itu berkisar dari umur 15 tahun sampai dengan 23 tahun, sedangkan menurut DR. zakiah Daradjat (dalam Wiliis, 2005: 23) masa remaja itu lebih kurang antara 13-21 tahun. Secara umum masa remaja dapat dibagi dalam 2 periode yaitu :
1) Periode Masa Puber usia 12-18 tahun
a) Masa Pra Pubertas: peralihan dari akhir masa kanak-kanak ke masa awal pubertas. Cirinya, Anak tidak suka diperlakukan seperti anak kecil lagi dan anak mulai bersikap kritis.
b) Masa Pubertas usia 14-16 tahun: masa remaja awal. Cirinya, mulai cemas dan bingung tentang perubahan fisiknya, memperhatikan penampilan, sikapnya tidak menentu/plin-plan, suka berkelompok dengan teman sebaya dan senasib
c) Masa Akhir Pubertas usia 17-18 tahun: peralihan dari masa pubertas ke masa adolesen. Cirinya, pertumbuhan fisik sudah mulai matang tetapi kedewasaan psikologisnya belum tercapai sepenuhnya, proses kedewasaan jasmaniah pada remaja putri lebih awal dari remaja pria.
2) Periode Remaja Adolesen usia 19-21 tahun
Merupakan masa akhir remaja. Beberapa sifat penting pada masa ini antara lain, perhatiannya tertutup pada hal-hal realistis, mulai menyadari akan realitas sikapnya dan mulai jelas tentang hidup serta mulai nampak bakat dan minatnya
d. Aspek-aspek pribadi.
DR. Dadang Sulaeman (1995: 17) mengemukakan bahwa para remaja dapat menilai dirinya dari berbagai segi diantaranya :
1) The actual Self, yaitu pendapat dan sikap-sikap tentang kenyatan dirinya. Pribadi remaja yang diketahuinya meliputi sikap-sikap yang disadarinya tentang self approval, keyakinan tentang kebergunaan atau ketidak bergunaan dirinya. Sikap-sikap tersebut merentang dari rasa penerimaan diri sampai kepada penolakan diri yang parah.
2) The ideal self, yaitu pandangan yang menyeluruh tentang apa yang ia inginkan atau pikirkan tentang harus menjadi apa dirinya itu. Ideal self meliputi berbagai aspek seperti aspirasi,yang diusakan untuk mencapainya, dan harapan yang akan direalisasikannya.
3) Pendapat yang irrasional tentang pribadi. Ini biasanya dinyatakan dengan apa yang disebut self idealization yang menunjuk kepada suatu sistem pendapatdan sikap-sikap yang irrasional mengenai probadinya. Elemen-elemen yang disadari daripada self idealization ini menurut individu yang bersangkutan merupakan kenyataan dan bukan khayalan.
Aspek-aspek atau dimensi yang tidak diketahui yaitu menurut Simund Freud (dalam Sulaeman, 1995: 18) terbagi atas id, ego dan superego.

  1. Tinjauan Tentang Perilaku Seks Pra Nikah
    a. Pengertian
    Dhede (2002) mendefinisikan :
    “perilaku seksual ialah perilaku yang melibatkan sentuhan secara fisik anggota badan antara pria dan wanita yang telah mencapai pada tahap hubungan intim, yang biasanya dilakukan oleh pasangan suami istri. Sedangkan perilaku seks pranikah merupakan perilaku seks yang dilakukan tanpa melalui proses pernikahan yang resmi menurut hukum maupun menurut agama dan kepercayaan masing-masing individu.
    Definisi seks, dapat dikelompokkan menurut beberapa dimensi diantaranya:
    1) Dimensi biologis yang berkaitan dengan alat reproduksi. Di dalamnya termasuk pengetahuan mengenai hormon-hormon, menstruasi, masa subur, gairah seks, bagaimana menjaga kesehatan dan gangguan seperti PMS (penyakit menular seksual), dan bagaimana memfungsikannya secara optimal secara biologis. Dimensi Faal mencakup pengetahuan mengenai proses pembuahan, bagaimana ovum bertemu dengan sperma dan membentuk zigot dan seterusnya.
    2) Dimensi Psikologis Seksualitas berkaitan dengan bagaimana kita menjalankan fungsi kita sebagai mahluk seksual dan identitas peran jenis.
    3) Dimensi Medis adalah pengetahuan mengenai penyakit yang di oleh hubungan seks, terjadinya impotensi, nyeri, keputihan dan lain sebagainya.
    4) Dimensi Sosial Seksualitas berkaitan dengan hubungan interpersonal (hubungan antar sesama manusia). Seringkali, hambatan inleraksi ditimbulkan oleh kesenjangan peran jenis antara laki-laki dan perempuan. Hal ini dipepgaruhi oleb faktor budaya dan idola asuh yang lebih memprioritaskan posisi laki-laki. Anggapan tersebut harus diluruskan. karena jenis kelamin tidak menentukan mana yang lebih baik atau berkualitas.


Perilaku seks pranikah ini memang kasat mata, namun ia tidak terjadi dengan sendirinya melainkan didorong atau dimotivasi oleh faktor-faktor internal yang tidak dapat diamati secara langsung (tidak kasat mata). Dengan demikian individu tersebut tergerak untuk melakukan perilaku seks pranikah. Motivasi merupakan penggerak perilaku. Hubungan antar kedua konstruk ini cukup kompleks, menurut Dhede (2002) antara lain dapat dilihat sebagai berikut :
1) Motivasi yang sama dapat saja menggerakkan perilaku yang berbeda, demikian pula perilaku yang sama dapat saja diarahkan oleh motivasi yang berbeda.
2) Motivasi mengarahkan perilaku pada tujuan tertentu
3) Penguatan positif/positive reinforcement menyebabkan suatu perilaku tertentu cenderung untuk diulang kembali
4) Kekuatan perilaku akan melemah bila akibat dari perbuatan itu bersifat tidak menyenangkan.
Motivasi tertentu akan mendorong seseorang untuk melakukan perilaku tertentu pula.
b. Faktor Penyebab
Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya aktivitas seks pranikah. Ada yang bisa kita kategorikan sebagai faktor internal, yaitu karena hal-hal yang datang dari dalam, tetapi juga ada faktor eksternal, yaitu dari luar diri yang bersangkutan. Menurut Ma’sum (2002) menyatakan sebagai berikut :
1) Faktor Eksternal atau dari luar, misalnya, karena pengaruh berbagai informasi yang salah dan bahkan dapat menyesatkan berkenaan dengan kesehatan reproduksi dan seksual. Biasanya informasi itu diperoleh dari teman yang tidak memiliki pemahaman yang benar tentang kesehatan reproduksi dan seksual. Juga bisa diperoleh dari berbagai media seperti VCD ataupun buku-buku yang dikategorikan porno, termasuk berbagai tayangan acara di TV yang semakin vulgar saja belakangan ini. Contoh lain dari faktor luar adalah adanya kesempatan yang dapat mendorong untuk melakukan hubungan seksual.
2) Faktor internal, Remaja mengalami masa yang disebut dengan pubertas. Pada gilirannya, akan mengalami berbagai perubahan secara fisik, psikologis, dan sosial. Perubahan itu terjadi karena mulai aktifnya hormon seks dalam tubuh. Bagi laki-laki, hormon seksnya disebut testosteron, diproduksi secara terus-menerus oleh testis. Sedangkan hormon seks wanita adalah estrogen dan progesteron, diproduksi dalam ovarium secara bersiklus. Hormon seks inilah yang menimbulkan ciri seksual sekunder dan mengakibatkan timbulnya dorongan seksual dalam diri kita.


Hormon seks tersebut dapat sangat besar pengaruhnya dalam menimbulkan dorongan seksual karena hormon seksual itu baru saja aktif berfungsi secara optimal. Namun, pada sisi lain kadar hormon ini sering kali belum stabil. Karena itu, dorongan seksual ini sebenarnya tumbuh secara alami. Dari peristiwa inilah lalu mulai timbul perilaku seksual, yaitu tindakan atau perbuatan yang dilakukan yang didasari dengan dorongan seksual, antara lain untuk memuaskan hasrat seksual. Salah satu perilaku seksual tersebut yaitu berhubungan seks sebelum menikah.

c. Pembagian Perilaku seksual pra nikah
Perilaku seksual pra nikah dapat dibagi diantaranya meliputi rabaan, ciuman, saling menggesakan alat kelamin hingga bersenggama atau berhubungan intim.
Sedangkan perilaku seksual pra nikah yang menyimpang menurut Willis (2005: 26) diantaranya adalah sebagai berikut :
1) Onani, yaitu kegiatan seks yang biasa dilakukan oleh laki-laki yang memenuhi kegiatan seksnya dengan cara mengeluarkan mani dengan tangan.
2) Homoseksual, kelainan perilaku seks yang dilakukan oleh 2 individu yang berjenis kelamin sama. Laki-laki dengan laki-laki dinamakan male sexuality atau lebih dikenal dengan istilah gay atau homoseksual. Wanita dengan wanita disebut lesbian.
3) Pelacuran, perilaku seks bebas yang dilakukan secara tidak sah menurut hukum dan agama.
4) Bestiality, yaitu mengadakan hubungan seks dengan binatang.
5) Gerontoseksual, yaitu melakukan hubungan kelamin dengan wanita yang lebih tua atau lanjut usianya.
6) Incest, yaitu hubungan kelamin yang terjadi antara 2 orang yang memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat.
7) Orgysex, yaitu hubungan seks yang dilakukan secara bersama-sama (kelompok).
d. Akibat Perilaku seksual pra nikah
Ada beberapa akibat yang bakal dirasakan bagi yang melakukan hubungan seks sebelum menikah. Misalnya, rasa bersalah maupun takut karena mendapatkan cemooh dari masyarakat ataupun hujatan dari keluarga, merasa melanggar norma agama, kehilangan keperawanan, sanksi hukum jika itu melibatkan orang-orang yang di bawah umur dan khawatir bila laki-laki tidak mau menikahi atau bertanggung jawab.

Dengan berbagai perasaan salah dan takut seperti itu, bukan tidak mungkin nantinya bisa menjadikan diri remaja menjadi tidak sehat sosial maupun psikologis. Apalagi jika yang bersangkutan kemudian hamil sebelum menikah, terpaksa menikah, atau malah melakukan pengguguran kandungannya. Semuanya itu tentu memiliki risiko.

Pengaruh negatif dari hubungan seks sebelum menikah itu tidak saja berhenti sampai sebelum menikah. Ketika akhirnya menikah, pengaruh tersebut akan terbawa-bawa. Karena pengaruh trauma yang dialami wanita, kepuasan dalam hubungan seksual dengan suaminya jadi berkurang. Begitu pun dengan kemungkinan terjadinya perselingkuhan hubungan seksual di luar nikah dan sebagainya.

Hubungan seks sebelum menikah selalu membawa gangguan psikologis dan penyesalan yang berkepanjangan. Rasa penyesalan, kecewa, maupun akibat psikologis lainnya yang berkenaan dengan hubungan seks sebelum menikah ini bisa sangat tergantung dari pandangan individu, bahkan juga kelompok sosialnya tentang hal tersebut. Misalnya, jika perilaku hubungan seks sebelum menikah itu mengakibatkan konflik terbuka dengan masyarakatnya, maka pengaruhnya dapat menjadi sangat serius. Seperti akan muncul gangguan psikologis seperti rasa malu, hina, putus asa, bahkan kadang sampai terjadi percobaan bunuh diri.

Tekanan dan gangguan seperti yang disebut-sebut diatas u dapat menimbulkan gangguan fungsi seksual seperti impotensi, vaginismus, disparenia, frigiditas, anorgasmus, dan ejakulasi dini, yang bisa berlanjut sampai masa pernikahan.

Berikut beberapa gangguan seksual yang dapat dialami oleh ramaja laki-laki yaitu diantaranya :
1) Impotensi, jika itu yang terjadi sebagai akibat dari faktor psikologis, maka gangguan itu muncul misalnya karena perasaan khawatir yang berlebih-lebihan.
2) Ejakulasi dini, jika laki-laki mendapatkan ejakulasi sebelum terjadi atau beberapa detik setelah penetrasi, ini misalnya dapat terjadi karena rasa cemas akibat takut dosa atau ketahuan orang lain, dan lain-lain.
Beberapa gangguan seksual yang dapat dialami oleh ramaja wanita yaitu diantaranya :
1) Frigiditas, kelainan yang mengakibatkan wanita tidak atau kurang mempunyai gairah seksual. Ini misalnya bisa terjadi karena hubungan psikologis seperti wanita tidak senang dengan pasangan seksualnya, perasaan malu, takut atau perasaan bersalah, di samping bisa juga karena faktor organik.
2) Anorgasmus, tidak tercapainya orgasme/kepuasan ketika berhubungan seks ini bisa terjadi misalnya wanita mengalami frigiditas, atau juga karena gangguan dan tekanan psikologis akibat hubungan seks sebelum menikah.
3) Vaginismus, kejang dari 1/3 bagian bawah otot vagina. Ini bisa karena wanita memiliki pengalaman buruk pada hubungan seks sebelum nikah.
4) Disparenia, perasaan sakit yang timbul pada saat melakukan hubungan seksual.

F. Metode Penelitian

  1. Desain Penelitian
    Metode yang akan digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode deskriptif. Metode dekriptif digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan yang sebenarnya mengenai suatu obyek penelitian secara sistematis, faktual dan akurat terhadap suatu fenomena yang tampak atau sebagaimana adanya.
    Sumadi Suryabrata (1997: 18) menyatakan bahwa :
    “Tujuan penelitian deskriptif adalah untuk membuat pencandraan sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu”.

Menurut Moh. Nazir (1983: 63), metode deskriptif adalah :
“Suatu metode dalam meneliti kelompok manusia, objek, pemikiran atau suatu peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif adalah untuk membuat suatu deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual, akurat mengenai fakta-fakta serta hubungan antar fenomena yang akan diselidiki”.

Sedangkan menurut jusman Iskandar dan Carolina Nitimihardjo (1411 H : 121) bahwa :
“banyak penelitian deskriptif yang dilakukan dalam pekerjaan sosial bertujuan mengumpulkan pengetahuan tentang kelompok klien, sikap berbagai kelompok konsumen dan kelompok utama yang penting, dan operasi badan sosial. Penelitian ini memberikan sumbangan penting untuk memahami orang-orang, masalah-masalah mereka serta cara-cara lembaga kesejahteraan sosial melaksanakan fungsinya”.

Selain itu metode deskriptif digunakan karena metode ini memudahkan peneliti dalam menganalisa data dan mudah dalam menginterpretasikan data yang telah diperoleh berkaitan dengan fenomena yang diteliti.

  1. Sumber Data, Populasi dan Penarikan Sampel
    a. Sumber Data
    Pelaksanaan penelitian ini dilakukan pengambilan data yang bersumber dari :
    1) Sumber Data Primer
    Sumber data primer adalah sumber data yang diperoleh secara lansung dari sumber data pertamanya atau responden utama yaitu para remaja di 2 SMANerakaxxx.
    2) Sumber Data Sekunder
    Sumber data sekunder yaitu data yang diperoleh dari hasil laporan, dokumen-dokumen dan literatur lainnya yang berkaitan dengan obyek penelitian serta pihak-pihak yang terlibat dengan kegiatan responden yaitu pemerintah setempat maupun badan-badan yang berwenang lainnya.
    b. Populasi
    Populasi merupakan kumpulan dari individu dengan kualitas dan ciri-ciri tertentu. Populasi yang menjadi sasaran dalam peneltian ini adalah para remaja di 2 SMA Kota Nerakaxxxyaitu SMU Negeri 2 Kota Nerakaxxxdan SMU Negeri 3 Kota Nerakaxxxyang berjumlah 1235 orang siswa yang terdiri dari :
    1) SMU Negeri 2 Kota Nerakaxxxjumlah siswa 613
    a) Kelas 1 berjumlah 201
    b) Kelas 2 berjumlah 206
    c) Kelas 3 berjumlah 206
    2) SMU Negeri 2 Kota Nerakaxxxjumlah siswa 622
    a) Kelas 1 berjumlah 213
    b) Kelas 2 berjumlah 207
    c) Kelas 3 berjumlah 202
    c. Penarikan Sampel
    Sampel yang akan dijadikan obyek dalam penelitian ini adalah sebanyak 150 orang yang diperoleh melalui teknik stratified sample. Populasi dibagi dalam kelompok yang homogen (per tingkat kelas), kemudian anggota sampel ditarik dari setiap strata.
  2. Definisi Operasional
    Definisi operasional ditujukan untuk membatasi ruang lingkup konsep-konsep yang digunakan, yaitu sebagai berikut :
    a. Sikap yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kecenderungan respon remaja baik positif maupun negatif atau favorable (menyenangkan) maupun unfavorable (tidak menyenangkan) terhadap perilaku seksual pra nikah
    b. Remaja yang dimaksud dalam penelitian ini adalah seseorang dengan usia 13-21 tahun yang bersekolah di SMU Negeri 2 Kota Nerakaxxxdan SMU Negeri 3Nerakaxxx.
    c. Perilaku Seksual pra nikah adalah perilaku seksual yang dilakukan sebelum menikah meliputi aktifitas perilaku ciuman, rabaan, gesekan kelamin, sanggama, onani, homoseksual dan aktifitas pornograi/pornoaksi.
  3. Pengumpulan Data
    a. Jenis data yang dikumpulkan
    Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah :
    1) Gambaran lokasi penelitian
    2) Gambaran umum dari pengetahuan remaja (responden) mengenai perilaku seksual pra nikah
    3) Asal penerimaan informasi mengenai seks
    4) Pengaruh informasi mengenai seks terhadap perilaku seksual remaja (responden)
    5) Kondisi seksual remaja (responden)
    6) Penanggulangan permasalah seksual remaja (responden)
    7) Keterlibatan remaja (responden) terhadap perilaku seksual pra nikah
    b. Teknik Pengumpulan Data
    Dalam pengumpulan data peneliti menggunakan teknik :
    1) Angket
    Angket merupakan pengumpulan data yang dilakukan dalam bentuk kuisoner atau daftar pertanyaan yang diisi oleh responden tanpa kehadiran peneliti.
    2) Wawancara
    Merupakan pengumpulan data dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara langsung dengan menggunakan pedoman pertanyaan atau yang sudah disiapkan kepada responden yang akan diwawancara.
    3) Studi dokumentasi
    Teknik pengumpulan data dengan cara mempelajari berbagai literatur atau dokumen yang berkaitan dengan obyek penelitian.
  4. Validitas dan Reliabilitasi Alat Ukur
    Pengujian validitas merupaka suatu ukuran yang mengajukan tingkat kevalidan suatu intrumen penelitian. Sebuah intstrumen penelitian dikatakan valid apabila mampu mengukur yang diinginkan dan dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat.
    Jenis pengujian data atau validitas alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi atau validatas muka dengan melakukan konsultasi dan bimbingan dengan dosen pembimbing.

Teknik Analisis Data
Teknik analisa data yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah analisa data kuantitatif dan kualitatif. Maksud dari penggunaan teknik tersebut adalah :
a. Analisa kuantitatif adalah data yang diperoleh dalam bentuk angka kemudian dituangkan ke dalam bentuk tabel dan dapat digunakan sebagai analisa data.
b. Analisa kualitatif adalah data yang diungkapkan melalui uraian kalimat logis dan sederhana sehingga dapat memperoleh gambaran yang jelas dari data yang diperoleh dalam bentuk tabel.

Daftar Pustaka

Al Mukaffi, Abdurrahman. 2003. Pacaran Dalam Kacamata Islam. Jakarta. Media Dakwah

Azwar, Saifuddin. 2005. Sikap Manusia. Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta. Pustaka Pelajar Offset.

Azhari, Akyas. 2004. Psikologi Umum dan Perkembangan. Jakarta. PT Mizan Publika.

Jurusan Rehabilitasi Sosial. 2004. Glossaries 1 Pekerjaan Sosial. Bandung. STKS.

Jurusan Rehabilitasi Sosial. 2005. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bandung. STKS.    

Knight, John F. 2004. Kamu Sudah Remaja? Bandung. Indonesia Publishing House.

Nazir, Moh. 1999. Metode Penelitian. Jakarta. Ghalia. Indonesia

Sulaeman, Dadang. 1995. Psikologi Remaja. Bandung. Mandar Maju.

Suryabrata, Sumadi. 1997. Metodologi Penelitian. Jakarta. Raja Grafindo Persada.

Willis, Sofyan, S. 2005. Remaja dan Masalahnya. Bandung. Alfabeta.

 Sumber Lain :

… . Siapa Peduli, Terhadap Remaja (http://www1.bpkpenabur.or.id/kps-jkt/berita/9901/lap4.htm)

… . Remaja dan Hubungan Seksual Pranikah. (http://www.keluarga sehat.com/keluarga-remajaisi. php?newsid= 880)

Adiningsih, Neni Utami. 'Virgin', Remaja Putri Dan Ancaman Aids. Suara Pembaruan. 1 Desember 2004.

Gamari. Polling di Bandung, 51,5% Remaja Lakukan Hubungan Seksual di Tempat Kos. (www.eramuslim.com)

www.bkkbn.co.id

www.depkes.co.id

www.e-psikologi.com/remaja/040402.htm

www.isekolah.org

www.iqeq.web.id/ 

www.sekolahindonesia.com/sidev/NewDetailArtikel.asp?iid_artikel=13&cTipe_artikel=3

www.smu-net.com/main.php?act=seks&xkd=25



www.lulusuji.blogspot.com