Beranda » Indonesia, Terlalu Lama “Dijajah” Belanda, Terlalu Cepat “Dijajah” Jepang

Indonesia, Terlalu Lama “Dijajah” Belanda, Terlalu Cepat “Dijajah” Jepang

Sebelum dilanjutkan saya hanya ingin menklarifikasikan bahwa penjajahan oleh bangsa manapun adalah tindakan yang sangat tidak bermoral, kejam dan tidak berperikemanusiaan.

Judul diatas merupakan sebuah pemikiran dan pendapat dari saya tentang latar belakang terbentuknya mental bangsa yang ada sekarang.

Ketika kita di sekolah dahulu (era 70 - 90′an) kita sering mendengar dari guru sejarah bahwa indonesia dijajah selama 350 tahun oleh belanda, dan 3 tahun dijajah jepang namun dengan sangat kejam yang melebihi belanda selama 350 tahun. Dalam benak saya ketika itu terbesit pikiran untung hanya 3 tahun berkuasa sebab tidak bisa dibayangkan berapa banyak korban sipil akibat romusha dan kerja rodi yang terjadi jika jepang lebih lama berkuasa.

Seiring dengan berjalannya waktu, kembali ke masa sekarang ketika kita melihat berita, kita sering membaca atau mendengar hal-hal negatif mengenai perilaku bangsa ini, konflik antar suku, agama bahkan antar desa yang sama etnis dan hanya dibatasi oleh tapal batas semu, korupsi yang merajalela, hukum dengan asas kekeluargaan, pengemis yang menjadi profesi dan berpenghasilan lebih dari para pekerja dan hal lain yang membuat saya agak apatis mengenai ke arah mana bangsa ini menuju.

Ketika saya berpikir mengapa bangsa ini seperti itu dan darimanakah asal mula kekacuan ini terjadi saya teringat kembali mengenai pelajaran di masa sekolah dahulu yang jarang sekali dibahas. Indonesia ketika masa Majapahit dan kerajaan-kerajaan adalah bangsa yang cukup dikenal dan besar, jika itu logikanya maka dengan mental seperti itu seharusnya kita sekarang sudah menjadi bangsa yang sejajar dengan negara-negara besar lainnya yang pertumbuhan ekonominya sedang melesat. Nyatanya? diluar negeri kita tidaklah diperhitungkan padahal dengan jumlah penduduk 10 besar dunia kita kalah jauh dengan India dan China, bahkan dengan negara tetangga dahulu yang belajar ke kita seperti Malaysia kita tertinggal jauh.

Kemudian saya perhatikan kebanyakan negara bekas jajahan yang lebih maju adalah bekas koloni Inggris, terlepas dari bantuan ekonomi dan campur tangan Inggris yang minim dalam mempengaruhi mental bangsa koloninya saya teringat kembali bahwa dalam pelajaran sejarah, selama 350 tahun menjajah bangsa ini telah banyak diajarkan hal-hal yang akan menjadi penentu kehancuran di masa depannya.

Kita ingat bagaimana Belanda sering melakukan politik adu domba kepada lawan-lawannya, hal ini masih sangat membekas sampai sekarang dimana kita lebih disibukkan dengan perang sesama kita sendiri, bagaimana cepatnya konflik menjalar hanya dengan sedikit disulut provokasi.

Dalam hal pendidikan selama 350 tahun menjajah orang Indonesia hampir tidak pernah diberikan kesempatan untuk sekolah atau menempuh pendidikan lebih tinggi, partai-partai dan organisasi pemuda dikontrol ketat oleh pemerintah kolonial yang ingin agar wilayah jajahannya tidak terdidik agar mudah dikuasai, ya ilmu adalah salah satu senjata yang sangat berbahaya.

Kontras dengan pendudukan Jepang yang lebih pragmatis, mereka justru memberikan kepada orang Indonesia untuk sekolah, organisasi pemuda dibiarkan berkembang, dan warga pribumi diberikan kesempatan untuk dilatih tentara secara profesional (walaupun untuk kepentingan jepang), karena yang dibutuhkan Jepang saat itu adalah sumber daya alam dan tenaga untuk mendukung perang di pasifik.

Sisi hukum sendiri tidak lebih baik, hukum di indonesia menganut hukum belanda yang walaupun tidak bisa dijadikan sebagai kambing hitam tunggal (ada banyak faktor penyebab kegagalan hukum di Indonesia), namun itu merupakan salah satu penyebab dari ketidaktegasan dan mudahnya orang dalam melakukan tindakan kejahatan.

Secara mental dan perilaku sendiri bangsa Jepang dan Belanda sebenarnya sangatlah beda, walaupun Belanda termasuk negara maju, namun hal itu lebih didukung faktor eksternal seperti infrastruktur yang sudah sangat bagus (dam mencegah kota-kota di belanda tergenang) dan dibiayai dari hasil “dagangan” VOC di bumi Indonesia (atau rampokan istilah kasarnya), setelah perang dunia ke 2, Belanda termasuk dalam sekutu yang memenangkan perang dan berhak atas rampasan perang, ditambah bantuan Marshal Plan dari Amerika ketika itu dan kecilnya negara Belanda membuat mereka dapat berdiri kembali.

Bagaimana dengan Jepang (dan Jerman)? sebagai pihak yang kalah dan harus membayar kompensasi biaya perang, sangatlah mengejutkan jika hanya dalam waktu 20 - 30 tahun Bangsa Jepang dapat menjadi penguasa di bidang ekonomi dan teknologi, mental kerja keras dan semangat bushido-nya benar-benar bisa mengubah negeri hancur bekas perang menjadi salah satu raksasa ekonomi, padahal ketika tahun 50′an kondisi Jepang mungkin bisa dibilang sama dengan Indonesia.

Masih belum terlepas bayangan kita ketika negeri sakura ini terkena tsunami besar beberapa saat lalu, ketika dalam kondisi hancur sekalipun, mereka masih mengantri dengan teratur untuk membeli bahan makanan sehari-hari (ya membeli, bukan menjarah), dan proses rekonstruksi yang sangat cepat dalam waktu 6 bulan. Bagi mereka harga diri dan kehormatan sepertinya sangatlah penting. Bahkan negara lain seperti Amerika sendiripun ketika bencana topan di new orleans, penjarahan toko-toko adalah hal yang wajar dan manusia sebagai hasrat untuk bertahan hidup.

Kembali ke konteks bangsa indonesia, sepertinya ada sebuah persepsi bahwa yang dibutuhkan bangsa ini adalah pemimpin yang tegas dan keras (dalam artian baik) kepada rakyatnya, rakyat selama ini melihat ketidakadilan dalam hukum membuat banyaknya tindak kejahatan dan bagaimana tidak tegasnya pemimpin ini membuat rakyat semakin tidak menghargai pemimpinnya yang akhirnya menimbulkan civil disorder.

Sebagai penutup, dalam sebuah film berjudul ‘inconvinient truth’ mengenai global warming, di ilustrasikan bagaimana seekor kodok ketika diberikan air panas kedalam wadahnya maka dia akan langsung melompat keluar dari wadah tersebut, namun ketika diberikan air biasa yang kemudian wadah itu dipanaskan perlahan-lahan, dia akan belajar beradaptasi dengan panasnya air itu perlahan-lahan sehingga kodok tersebut tidak sadar bahwa panas air tersebut lebih panas dengan air panas yang pertama kali diberikan, sehingga membunuhnya perlahan lahan. Apakah bangsa ini adalah kodok tersebut?

Tailor

www.lulusuji.blogspot.com