Beranda » Karena Sabar, Mereka Besar

Karena Sabar, Mereka Besar

Menurut Imam Ibnu al-Jauzy, Allah menyebut kata “sabar” di 90 tempat di dalam al-Quran. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya sabar bagi kita. Menurut para ulama tafsir, jika satu kata atau kalimat sering diulang-ulang dalam al-Quran, artinya kata atau kalimat tersebut harus kita perhatikan dengan seksama.


Agar kita mampu bersabar, bukanlah perkara mudah. Karena, makna sabar sendiri adalah separuh dari iman. Orang yang sudah mampu bersabar artinya memiliki separuh dari iman. Sedangkan iman itu sangat luas cakupannya. Dengan kata lain, sabar meliputi setiap sisi kehidupan dan pahala yang akan kita peroleh tidak terbatas.


Sabar menurut para ulama terbagi menjadi tiga jenis: Pertama, sabar dalam menghadapi musibah. Kedua, sabar dalam menjauhi segala bentuk maksiat. Dan ketiga, sabar dalam menaati perintah Allah.


Sementara tingkat kesabaran terbagi menjadi tiga: Pertama, sabarnya para Nabi dan Rasul. Kedua, sabarnya orang-orang shiddiq dan shalih. Dan ketiga, sabarnya orang-orang awam.



Kesabaran Nabi dan Rasul ditempatkan pada tempat tertinggi karena merekalah yang mendapat ujian dan cobaan terbesar yang pernah dialami umat manusia. Kesabaran sangat erat kaitannya dengan keimanan seseorang. Semakin tinggi iman seseorang, semakin ia diuji dan dicoba. Ketinggian iman para Nabi dan Rasul sudah tidak diragukan lagi.


Kita harus banyak mengetahui keutamaan sabar, karena dengannya kita menjadi lebih termotivasi untuk bersabar. Kesabaran para Nabi dan Rasul adalah kesabaran ideal yang hendaknya kita melihat, mencontoh dan meneladaninya. Berikut ini teladan kesabaran empat orang Nabi. Penulis sengaja hanya mengambil empat orang Nabi karena mereka mewakili jenis-jenis kesabaran yang ada.



Kesabaran Nabi Ayyub As.


Pada mulanya Nabi Ayub As. dikenal sebagai orang yang sangat kaya raya, gagah nan tampan rupawan, dan juga beristri banyak, namun secara sangat cepat pula semuanya hilang. Allah memberinya ujian dan cobaan berupa penyakit kulit yang sulit untuk disembuhkan.


Berkat kesabaran dan sikap berserah dirinya kepada Allah, kemudian Allah menyembuhkan penyakitnya dengan memerintahkannya, agar dia menghentakkan kakinya ke bumi. Nabi Ayyub menaati perintah itu maka keluarlah air dari bekas injakan kakinya, Nabi Ayyub pun mandi dan minum dari air itu, sehingga sembuhlah dia dari penyakitnya, dikembalikan segala apa yang dipunya sebelumnya, ditambah lagi kemuliaannya, dan dicatat sebagai orang yang sabar. “…Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya).” (QS. Shaad: 44).


Nabi Ayyub adalah contoh teladan seorang Nabi dalam menghadapi cobaan berupa penyakit. Sesungguhnya mereka yang kini sedang terbaring sakit atau yang sedang menderita suatu penyakit, mestilah membaca kisah tentang Nabi Ayyub ini, mudah-mudahan dapat memberi motivasi untuk lebih bersabar.




Kesabaran Nabi Yusuf As.


Kehidupan Nabi Yusuf As. dipenuhi dengan ujian dan cobaan, mulai dari masa remajanya yang menjadi budak, hadirnya seorang wanita cantik yang mengajaknya berzina, hingga kemudian difitnah dan dipenjara.


Penolakannya terhadap ajakan berzina Zulaikha telah menjadi sejarah yang dikenang sepanjang masa. Padahal saat itu kesempatan untuk berzina sangat terbuka lebar. Tapi Nabi Yusuf dengan kekuatan imannya, menolak dengan tegas dan berkata: “Ma’adzallahi, innahu rabbii ahsana matswaay – Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Hingga akhirnya Zulaikha menarik baju Yusuf bagian belakang hingga koyak, yang pada saat itu Yusuf As. hendak menjauh dari Zulaikha.


كَذَلِكَ لِنَصْرِفُ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَآءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ


“Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS. Yusuf: 24).



Sosok pejuang yang sabar dalam menundukkan hawa nafsu telah melekat pada diri Nabi Yusuf As.. Namanya menjadi mulia dan kedudukannya terus naik menjulang. Hingga beliau diangkat menjadi seorang menteri yang cerdas dan memiliki kemampuan dalam menyingkap tabir mimpi. Setelah itu diangkat menjadi Raja Mesir.


Hendaknya kita menjadikan kisah Nabi Yusuf As. ini sebagai motivasi untuk bersabar dalam menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Allah Swt. berfirman dalam surat Yusuf ayat 7: “Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.”



Kesabaran Nabi Zakariya As.


Nabi Zakariya As. sudah sangat tua dan istrinya wanita yang mandul, tapi keinginannya sangat kuat untuk memiliki seorang anak. Beliau terus berikhtiar, bersabar, dan sering berdoa dengan doa: “Rabbi habli min ladunka dzurriyyatan thayyibah. Innaka samii’ud du’aa’ – Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.”


Kemudian Allah mengabulkan doa Nabi Zakariya tersebut. Lahirlah seorang anak yang shaleh, yang menjadi teladan, pejuang kebenaran dan keadilan, dan mujahid yang syahid, Yahya As.


Bagaimana kehamilan itu bisa terjadi? Bukankah pintu kemungkinan itu – secara rasional – sudah tertutup? Allah Swt. berfirman dalam surat Ali Imran ayat 40: “Kadzalikallahu yaf’alu maa yasyaa’ – Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.”



Bagi mereka yang kini belum diberi keturunan, bersabarlah! Mendekatlah kepada Allah. Kencangkan doa-doa sebagaimana Nabi Zakariya berdoa. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah kalau kita sudah mengikuti apa yang diperintahkan-Nya.



Kesabaran Nabi Muhammad Saw.


Hampir tidak terhitung banyaknya ujian dan cobaan yang mendera Nabi, mulai dari penghinaan, penyiksaan, penindasan, pemboikotan, wafatnya kedua orang yang dicintai saat beliau sangat membutuhkan pembelaan keduanya, hingga wafatnya satu demi satu putra-putra beliau, sehingga orang-orang kafir mengejeknya dengan gelar “batara” (terputus), yaitu terputus keturunannya karena semua anak laki-lakinya wafat.


Namun kemudian sesudah gelapnya malam penderitaan, datanglah fajar kebahagiaan. Nabi Saw. menuai hasil apa yang selama ini diyakininya; dakwah Islam semakin tersebar luas, pahala yang tak terputus-putus (wainna laka la ajron ghayra mamnuun), Makkah dapat direbut dari tangan kafir Quraisy, kemenangan demi kemenangan di medan tempur, dan harta ghanimah dan fa’i yang semakin melimpah. Dan penghargaan yang jauh lebih hebat dari semua itu adalah namanya disandingkan dengan nama Allah dalam kalimat syahadat dan Allah memujinya dengan berfirman: “Wa innaka la’alaa khuluqin adziim – Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”




Pelajaran Berharga


Entah bagaimana jadinya jika Nabi Ayyub As. tidak mau bersabar dengan penyakitnya; Nabi Yusuf As. tidak bersabar dalam menundukkan hawa nafsunya, Nabi Zakariya tidak bersabar dalam menanti buah hatinya tercinta; dan Nabi Muhammad Saw. tidak bersabar dalam mengemban dakwah Islam untuk umat sepanjang masa.


Nabi Ayyub pasti akan menjadi orang yang berputus asa dan karena itulah penyakitnya bisa bertambah parah, karena penyakit kulit bisa bertambah parah jika penderitanya mengalami stres dan tekanan mental. Nabi Yusuf pasti akan menjadi anak jalanan atau pelacur yang mengobral nafsunya dimana-mana. Nabi Zakariya pasti akan berhenti berharap memiliki seorang anak yang kelak menjadi sosok teladan umat manusia. Nabi Muhammad pasti akan menghentikan dakwahnya dan mengurung diri di dalam rumah, hingga tak ada generasi beriman dikemudian hari, termasuk kita!


Reguklah mata air kecemerlangan dari kesabaran empat orang Nabi itu. Dekatkanlah dirimu kepada Allah dan kuatkanlah kesabaran dengan berlipat ganda. Karena dari sanalah engkau akan merasakan manisnya iman dan bersinarnya matahari kebahagiaan di dalam hati.


Apa yang tidak mungkin bagi Allah? Sesungguhnya engkau bergantung pada Zat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Zat yang mampu membuat dingin api yang membakar tubuh Nabi Ibrahim. Zat yang membelah lautan untuk menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya dari kejaran Fir’aun. Zat yang membolak-balikkan hati dari kafir menjadi beriman; dari keras menjadi lembut seperti yang terjadi pada diri Umar bin Khaththab. Zat yang dapat memenangkan pasukan beriman meskipun jumlah pasukan musuh berlipat-lipat seperti yang terjadi pada perang Badar.


Jangan sampai kita berpaling kepada selain-Nya setelah ditimpa ujian dan cobaan. Karena sejarah telah memberitahukan kepada kita, pertolongan Allah datang saat ujian dan cobaan sedang berada di puncaknya, sementara kita tetap bersabar.


Ya Allah Ya Tuhan kami, berikanlah kesabaran kepada kami dan jadikanlah kami bagian dari orang-orang yang sabar. Janganlah Engkau sesatkan kami setelah Engkau beri petunjuk kepada kami. Kuatkanlah iman kami. Kokohkan akidah kami. Teguhkanlah pendiri kami diatas jalan-Mu yang lurus, Amin ya Rabbal alamiin.
Chandra Kurniawan



www.lulusuji.blogspot.com