Beranda » Valentine’s Day, Perayaan yang Dikaburkan Sejarahnya

Valentine’s Day, Perayaan yang Dikaburkan Sejarahnya


“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (QS. Al-An’am: 116)


Menjelang datangnya “Hari Kasih Sayang” atau peringatan Valentine’s Day (VD) 2012 ini, produk-produk makanan tertentu, semisal cokelat, dikemas dengan warna-warni khas pink dijajakan di gerai-gerai supermarket, mal, dan minimarket. Demikian pula aneka kembang, seperti mawar, siap ditawarkan kepada generasi muda yang hendak merayakannya di sejumlah tempat. Bunga mawar sudah identik dengan VD.



Tengoklah Pasar Bunga Rawa Belong, Jakarta Barat. Beberapa pekan sebelum kedatangan VD, penjualan bunga, khususnya jenis mawar, laris manis bak suasana penjualan bunga menjelang hari raya Idul Fitri. Luar biasa peminatnya, terutama kalangan muda-mudi dan pengelola tempat-tempat hiburan guna menyambut VD! Selain peminatnya melonjak drastis, harga yang dipatok pun naik hingga 300% dari hari-hari biasa.


Sementara sejumlah perusahaan, baik penyedia jasa maupun produk lainnya, juga turut beramai-ramai menyambut Valentine dengan memasang iklan di media massa cetak, elektronik, maupun online. Sepertinya perusahaan-perusahaan tersebut merasa “terkucil” jika tak ikut merayakan Valentine yang jatuh setiap tanggal 14 Februari tersebut.


Media massa, yang oleh sejumlah ahli Ilmu Komunikasi Massa disebut sebagai agen kapitalisme juga turut memberikan justifikasi untuk merayakan VD. Sebelum hari VD tiba, sejumlah berita dan artikel diturunkan, membahas tentang gegap gempitanya persiapan masyarakat urban menyambut VD. Seolah-olah, VD menjadi tren baru yang mesti diikuti jika kita tak mau ketinggalan zaman.


Untuk siapa cokelat dan bunga itu diberikan? Tentu jawaban mereka yang merayakan VD adalah “untuk orang terkasih”. Orang yang terkasih itu berarti bisa ibunya, ayahnya, temannya, atau lebih khusus lagi untuk pacar atau kekasihnya. Dan peruntukan bagi pacar inilah yang tampaknya paling dominan.


Aneh bin ajaib, memang. Di negara yang mayoritas penduduknya Muslim di sini, peringatan sebuah peristiwa yang justru berasal dari tokoh non Muslim, ini tiap tahun dirayakan dengan gegap gempita. Tiap tahun perayaan VD kian massif karena bertambahnya generasi baru yang semula belum akrab dengannya bergabung bersama mereka yang telah familiar dan menikmati agenda tersebut.


Asal Muasal Valentine’s Day



Setiap generasi semestinya paham dengan peringatan maupun perayaan hari tertentu semacam VD ini. Sangat naif, atau bahasa pasarnya “bodoh”, jika mereka tak tahu, apalagi “tak mau tahu” tentang sejarah dan makna sebuah peringatan. Jika mereka tak tahu sejarah dan makna di balik peringatan VD, itu ibarat “katak dalam tempurung”, sementara mereka berada di era teknologi informasi yang dengan mudahnya mengakses pengetahuan dari berbagai sumber.


Jika mereka bersikap “tak mau tahu” itu berarti mereka seperti menyerahkan dirinya menjadi budak peradaban dan budaya dari luar yang sesungguhnya bertentangan dengan nilai-nilai hidup yang dipegangnya selama ini.


Mengutip informasi dari berbagai sumber, kiranya kita mengetahui bahwa VD bermula dari seorang rohaniawan Kristen yang menjadi martir (dibunuh) karena keyakinan yang dianutnya semasa kekuasaan Romawi di bawah Raja Claudius II (268-270 M). Semasa hidupnya Valentinus disebut-sebut sebagai figur yang menjalani hidup dengan penuh kasih. Karena itulah, begitu dirinya terbunuh, maka para pengikutnya memberikan gelar Saint atau Santo (orang suci).


Peristiwa kematian St Valentine pada 14 Februari 270 M itu lantas diperingati sebagai upacara ritual keagamaan di sebagian penganutnya yang beragama Kristen tersebut. Meski kemudian dalam perkembangannya, secara berangsur-angsur peringatan itu bergeser menjadi perayaan yang tidak mendasarkan pada agama tertentu. Hari Valentine kemudian dihubungkan pula dengan pesta jamuan kasih sayang bangsa Romawi Kuno yang disebut “supercalis”.



Namun, manakala penguasa dan bangsa Romawi mengikuti agama Kristen, pesta supercalis tersebut dikait-kaitkan dengan upacara sakral memperingati kematian St. Valentinus sebagai hari kasih sayang. Perayaan ini menyebar cepat dan luas di kawasan Eropa saat orang-orang di sana mengaitkan kepercayaan mereka bahwa saat kasih sayang itu bersemi bak burung jantan dan betina pada tanggal 14 Februari. Ditambah lagi mitos di kalangan bangsa Eropa bahwa sebaiknya para pemuda dalam mencari pasangan hidupnya pada tanggal 14 Februari, kian memberikan semangat generasi baru bergabung memperingatinya.


Di negara-negara Barat, dimana perayaan VD bermula, perayaannya menurut catatan Wikipedia, menempati posisi kedua setelah perayaan Natal. The Greeting Card Assosiation di Amerika Serikat memperkirakan, di seluruh dunia sekitar satu miliar kartu valentine dikirimkan setiap tahun.


Perayaan VD kini terus berkembang pesat, menjalar ke segala penjuru dunia. Sejarah dan makna peringatan VD seperti sengaja disembunyikan guna merangkul generasi muda lain di negara-negara yang bukan penganut Kristen. Maka, kenyataannya dalam beberapa tahun terakhir ini peringatan kematian St Valentinus tersebut dianggap sebagai perayaan hari kasih sayang yang bernilai universal. Luar biasa!


Ekses Valentine’s Day


Kasih sayang memang bersifat manusiawi. Setiap manusia membutuhkan kasih sayang dari sesamanya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Ajaran dan nilai-nilai semua agama juga menekankan masalah ini. Hanya saja jika sebuah peringatan hari kasih sayang yang memiliki akar sejarah dengan nilai, keyakinan, serta ideologi tertentu, pastilah memiliki nilai dan semangat tertentu pula. Meski, bisa jadi hal itu tak tampak wujudnya!


Kasih sayang sejati namun kemasannya ditransformasikan melalui budaya pop juga bisa melenceng dari nilai hakiki. Misalnya, pacaran yang di negeri ini sudah menjadi hal lumrah, sejatinya bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Tapi, rasanya pemuda yang pernah pacaran bahkan menjadi bahan cibiran kawan-kawannya. Pacaran seolah-olah menjadi penanda seseorang mengikuti tren arus hidup modern. Sedangkan mereka yang tak melalui jalur pacaran dalam menuju kursi pelaminan dianggap kuno dan ketinggalan zaman. Masya Allah!


Nah, kaitannya dengan Valentine Day, tampaknya momen seperti inilah yang ditunggu-tunggu oleh mereka yang akrab dengan dunia pop, yakni mereka yang mengikuti arus kehidupan hedonistik dan materialistik. Sudah bisa dibayangkan sebagian mereka yang merayakan VD akan menghabiskan waktunya seharian dengan kekasihnya. Ada yang masih bersifat wajar, namun tak menafikan pula mereka yang “menerjemahkan” VD dengan melakukan aktivitas yang betul-betul melanggar hukum Allah SWT.



Sebagian dari mereka yang belum berstatus suami-isteri jelas ada yang menghabiskan waktu berbagi “kasih sayang” itu dengan kencan di kafe-kafe, di bar-bar, dan di diskotik-diskotik. Siapa yang bisa menjamin mereka tidak melakukan perbuatan yang mendekati zina?


Dengan melihat kemudharatan yang terjadi dari perayaan VD ini, kiranya sudah saatnya para dai dan alim ulama untuk gencar mengingatkan “dampak yang tak diinginkan” tersebut. Sebab, bisa jadi jutaan pasangan muda-mudi di sini turut merayakan VD tanpa memahami makna dan sejarahnya. Mereka mengikuti tradisi dan budaya populer yang dirayakan oleh kebanyakan bangsa Barat yang notebene non Muslim.


Dinul Islam yang suci telah menuntun manusia dengan ajaran kasih sayang yang suci, bukan kasih sayang yang disalahgunakan. Bukankah kita tak menginginkan generasi yang mudah terseret arus yang berkedok gaya hidup modern, tapi sejatinya adalah gaya hidup jahiliyah modern. Valentine’s Day mendapat sambutan baik di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim karena yang dikedepankan adalah nilai universal dan gaya hidup pop. Sementara sejarah asli yang melatarbelakanginya ditutup-tutupi atau dikaburkan. Sadarlah wahai generasi Islam! Wallahu a’lam bishawwab.

Misroji, M.I.Kom



www.lulusuji.blogspot.com